Kamis, 13 Januari 2011

Karena ketemunya di CBN Portal

Pengantar: Tulisan ini kami peroleh dari portal CBN, dimana dalam catatan kaki tulisan tersebut, bersumber dari Harian Bisnis Indonesia. Sayangnya, kami tidak memiliki link langsung ke lokasi asli dimana artikel tersebut berasal. Namun demikian, kami ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya, kepada penulisnya, mbak Reni Efita Hendry dari Bisnis Indonesia. Sebuah kehormatan juga, kiranya artikel ini juga menjadi koleksi perpustakaan elektronik BPOM.

Menjaga bakau menuai sirop
Entrepreneurs Tue, 17 Nov 2009 14:05:00 WIB

Apakah Anda pernah menikmati buah bakau? Mungkin Anda merasa aneh mendengar buah bakau yang dihasilkan pohon bakau yang tumbuh di pantai dapat dikonsumsi. Memang belum banyak orang yang mengenal manfaat buah itu.

Berbeda dengan kebiasaan nelayan yang tinggal di pinggir pantai Surabaya. Sebagian penduduk di sekitarnya pernah makan buah bakau, karena aromanya yang wangi, meski rasanya agak sedikit asam.

Dari kebiasaan nelayan tersebut, pencinta alam Mohson, 47, tertarik memanfaatkannya. Dia mencoba mengolah buah bakau itu menjadi sirop. Sampai saat ini baru dua jenis tanaman bakau yang diolahnya untuk konsumsi manusia dan sudah diteliti oleh para ahli dari perguruan tinggi di Surabaya.

Di rumahnya, Mohson yang kerap dipanggil Sony, biasa mengundang anak-anak muda anggota Karang Taruna berkumpul. Mereka disuguhkan minuman sirop buah bakau, dan selalu minta minuman tersebut ketika bertamu kembali.

Sirop tersebut dibuatnya berwarna hijau yang menyegarkan seperti warna kulit dari buah bakau itu.

Buah itu didapatkannya dengan memberdayakan nelayan setempat untuk mengumpulkan buah bakau. Nelayan pun terdorong untuk memelihara tanaman bakau dan menanamnya di areal lain. Tanaman bakau jadi terpelihara dan buahnya bernilai ekonomis.

Awalnya, Sony yang tinggal di Rungkut, Surabaya, membentuk Kelompok Tani Mangrove pada 1998 yang bertujuan membersihkan sampah di pantai timur Surabaya. Seiring dengan perjalanan waktu, kelompok tersebut mendapatkan binaan dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Surabaya.

Kelompok tani mangrove yang bekerja khusus membersihkan pantai itu berkembang mulai 2000 dengan menanam kembali buah bakau yang jatuh di pantai yang kosong di pantai timur Surabaya, mulai dari Genjer sampai Gunung Anyer. "Sampai sekarang kami sudah menanam tanaman bakau sekitar 500 ha," kata Sony.

Sony sempat bekerja di perusahaan swasta di bagian pengukuran tanah sebelum 1998. Dari situ, hatinya tersentuh melihat kondisi daerah hutan bakau yang kotor dan jarang ditumbuhi oleh tanaman bakau. Dari kondisi pantai yang kotor itu, dia mengajak petambak bekerja sama untuk membersihkan pantai agar lingkungannya menjadi bersih.

Saat mengurusi tanaman bakau, dia memperhatikan kebiasaan penduduk setempat yang memakan buah bakau yang jatuh dan tidak mengakibatkan apa-apa. Apalagi aroma buah bakau jenis soneratia kasiolaris wangi dan segar, menarik selera untuk dinikmati.

Tidak semua jenis buah bakau bisa dibuat sirop. Jenis bruguera gymnorizzal yang buahnya berbentuk panjang yang berwarna agak keunguan lebih cocok diolah menjadi tepung untuk kue atau dodol dan nasi. Sementara jenis yang lain tidak bisa dikonsumsi.

Ide untuk mengolah buah tersebut menjadi sirop muncul pada 2004, berbekal pengalaman dan pengetahuan membuat dan mensterilkan minuman manis beraroma buah yang didapat dari kedekatannya dengan mahasiswa, perguruan tinggi.

Minuman antioksidan

Buah bakau yang dapat diproses menjadi sirop harus sudah tua di pohon dan jatuh agar hasil sirop bagus. Jika buah bakau yang digunakan kurang tua atau dipetik, buahnya akan kering saat diproses menjadi sirup.

Dia pun mengajarkan kepada petani untuk membuat jaring di bawah pohon bakau agar buah tidak jatuh ke lumpur atau air laut saat pasang.

Dia bekerja sama dengan Universitas Eirlangga untuk meneliti buah bakau itu. Ternyata, buah tersebut mengandung vitamin C, dan vitamin lain yang berfungsi sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan.

Sirup buah bakau dikemas dalam botol berisi 750 ml dan 350 ml. Dari 1 kg buah yang sudah dikupas menghasilkan 2,5 liter sirop. Satu botol isi 750 ml dijualnya seharga Rp25.000.

Penjualannya tidak hanya di Surabaya. Melalui ajang pameran dia mempromosikan sirop buah bakau tersebut.

Dia pernah menerima pesanan sebanyak 500 liter sirop untuk perguruan tinggi ITS. "Kami mendapat referensi dari laboratorium biologi ITS yang menyatakan bahwa buah tersebut aman dikonsumsi manusia. Sudah ada izin dari Depkes," katanya.

Sejak kecil pria kelahiran Bojonegoro ini senang dengan tumbuhan. Waktu di SD dia senang menanam bunga, dan melakukan uji coba. Misalnya, mengolah biji asam sehingga bisa dimakan melalui beberapa proses.

Alumnus STM Negeri Bojonegoro ini pernah bekerja di Badan Pertanahan Bojonegero selama 5 tahun. Setelah itu dia alih profesi dengan membuka usaha dagang sembako, lalu berjualan buah-buahan. Pernah juga membuka bengkel elektronik.

Dia hijrah ke Surabaya pada 1996 dan bekerja di PLN. Lalu pindah ke perusahaan swasta bagian pengukuran tanah yang waktu kerjanya tidak setiap hari, sehingga ketika libur dan Minggu dimanfaatkannya untuk menelusuri pantai.

Kini, kelompok tani mangrove yang dibinanya mempunyai dua divisi yaitu rehabilitasi dan pendidikan. Mereka sudah menularkan ilmunya hingga ke Natuna, Riau, Tuban, dan pesisir Jawa.

Inovasi pembuatan sirop, termasuk upaya melatih dan membina masyarakat dalam mengelola buah bakau menuai penghargaan. Sony meraih Adhi Bakti Bina Bahari sebagai juara 1 bidang Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) DKP, belum lama ini.

Pengembangan bisnis sirop buah bakau telah membantu menjaga keseimbangan lingkungan dan mengubah kebiasaan dari menebang pohon bakau menjadi memetik buahnya saja. (reni.efita@bisnis.co.id)

Reni Efita Hendry
Bisnis Indonesia

Sumber: Bisnis Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar